Sabtu, 04 Juli 2015

Mikrobiologi



Pernah dengar kata “kuman”? Sebagian besar dari kita tentu sering mendengar, lewat iklan misalnya. Iklan sabun, pasta gigi, sampai pembersih porselen. Kuman pun disinggung dalam buku peribahasa “Gajah dipelupuk mata tak tampak, Kuman diseberang lautan tampak”.
Berbicara mengenai kuman, -kami biasa menyebutnya bakteri- kebanyakan dari kita akan merasa takut jika terkena makhluk ukuran mikron tersebut, hingga sebagian besar produk-produk kesehatan dan kebersihan menggunakan slogan “Bebas kuman, Antikuman, Kuman No Way dan seterusnya.
Ada hal menarik yang sebenarnya perlu dikaji. Si Kuman sama seperti manusia, perlu taarufan untuk mengenalnya.
Kuman, dalam bahasa kami, biasa disebut bakteri. Makhluk kecil yang berukuran mikron ini ada yang bersifat patogen dan non-patogen. Bakteri yang bersifat patogen dihambat atau dimatikan pertumbuhannya dengan antibiotik. Antibiotik ini sebenarnya merupakan metabolit –senyawa yang dihasilkan- dari bakteri juga yang biasanya disintesis secara kimia. Jadi, si bakteri ini mati karena bakteri yang lain yang membuat penawarnya. Keren kan?
J
Antibiotik ini bekerja dengan menekan atau menghentikan proses biokimia si bakteri dengan cara yang berbeda-beda sesuai penggolongan antibiotik itu sendiri. Ada yang yang menghambat sintesis dinding sel bakteri pada golongan Penisilin, Sefalosporin, Polipeptida; ada yang menghambat proses transkripsi dan replikasi pada golongan kuinolon; adapula yang menghambat sintesis protein pada golongan makrolida, aminoglikosida dan tetrasiklin, dan masih banyak lagi mekanisme kerja antibiotik.
Karena si bakteri ini begitu menakutkan –karena mindset yang menganggap bahwa bakteri si pembawa penyakit- dan si antibiotik sangat mudah didapatkan, masyarakat seringkali mengobati dirinya sendiri jika sangat yakin terinfeksi bakteri. Fenomena seperti ini sebenarnya tidak boleh berkembang karena berbahaya pada masyarakat sebab akan mengakibatkan resistensi pada masyarakat yang salah menggunakan antibiotik.
Apa bahaya nya?
Penggunaan antibiotik yang dilakukan secara sembarangan akan membuat bakteri kebal terhadap antibiotik tersebut. Bagaimana bisa? Karena biasanya antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, sehingga memungkinkan terjadinya mutasi pada bakteri yang memunculkan bakteri yang lebih kebal terhadap antibiotika tersebut. Oleh karena itu, pemberian antibiotika harus diberikan dalam dosis yang menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang “setengah-setengah” hanya membuka peluang munculnya tipe bakteri yang 'kebal'. Antibiotika salam satu dosis lengkap harus dihabiskan, meskipun baru setengah dosis saja terlihat sudah sembuh.
Sebagai kesimpulan, masyarakat sebaiknya memeriksakan kesehatan pada dokter ahli untuk mengetahui apakah terinfeksi bakteri patogen atau tidak, dan selanjutnya meminta informasi tentang penggunaan obat yang rasional pada apoteker untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam penggunaan obat.
Dan tak lupa pula, berdoa kepada Allah SWT untuk meminta kesembuhan karena dalam Firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 80
“Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkan penyakitku” (الشعرا80)
Sabda Rasulullah Shalallahu’Alaihi wa Sallam:
“Setiap penyakit mempunyai obat. Apabila terpadan penyakit dengan obatnya niscaya akan sembuhlah penyakit dengan izin Allah”. (H.R. Muslim dan Ahmad dari Jabir radiallahuanhu).

Fitokimia



 
Kabar gembira untuk kitaaa semua, kulit manggis kini ada ekstraknyaaa~ ~ ~...
Mungkin melihat lirik diatas, beberapa orang akan mengulang membacanya dan menambahkan nada-nada sesuai dengan slogan dari obat herbal “Ekstrak Manggis”. Mendengar kata ekstrak, mahasiswa farmasi tentu tahu tentang itu. Saya hanya ingin berbagi sedikit tentang apa itu ekstrak.
Ekstrak itu merupakan hasil penyarian dari pelarut yang sesuai. Prinsipnya sama seperti membuat teh. Serbuk teh direndam dalam air panas, dan senyawa yang ikut bersama dengan air panas itulah yang selanjutnya dinamakan ekstrak. jadi selama ini kita meminum ekstrak daun teh, bukan minum daun teh, hehe.
Metode penyarian sangat banyak, seperti sokletasi, perkolasi, digesti, infusa, refluks dan maserasi. Kali ini saya membahas tentang maserasi dan refluks. Maserasi merupakan cara penyarian sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia –serbuk kering- dalam cairan penyari. Mekanisme penyariannya yaitu cairan penyari akan menembus dinding sel dari serbuk dan akan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif.  Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dll. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Sedangkan kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan kurang sempurna.
Metode refluks adalah metode berkesinambungan, dimana cairan penyari secara kontinyu menyari zat aktif dalam simplisia. Cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut terkondensasi oleh pendingin sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke dalam labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 4 sampai 4 kali dalam waktu 4 jam. Metode ini digunakan untuk mengekstraksi simplisia yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah dan biji. Kerugian dari metode ini yaitu larutan dipanaskan terus menerus sehingga zat aktif yang tidak tahan pemanasan kurang cocok. Yang kedua, cairan penyari dididihkan terus-menerus sehingga cairan penyari yang baik harus murni atau campuran azeotrop.
Kesimpulan yang menarik, ternyata prinsip penyarian ini digunakan oleh orangtua kita, khususnya ibu kita dirumah ketika memasak sayur, menyeduh teh dll. Tapi perlu diingat, tidak semua senyawa yang terdapat pada sayuran ataupun bahan-bahan lainnya tahan terhadap pemanasan tinggi –misalnya antioksidan yang tidak tahan pemanasan-, bisa jadi ketika niatnya ingin mendapatkan antioksidan, justru ketika perebusan malah antioksidannya yang hilang, hehe.