Kabar gembira untuk kitaaa semua, kulit manggis kini ada
ekstraknyaaa~ ~ ~...
Mungkin melihat lirik diatas, beberapa orang akan mengulang
membacanya dan menambahkan nada-nada sesuai dengan slogan dari obat herbal
“Ekstrak Manggis”. Mendengar kata ekstrak, mahasiswa farmasi tentu tahu tentang
itu. Saya hanya ingin berbagi sedikit tentang apa itu ekstrak.
Ekstrak itu merupakan hasil penyarian
dari pelarut yang sesuai. Prinsipnya sama seperti membuat teh. Serbuk teh
direndam dalam air panas, dan senyawa yang ikut bersama dengan air panas itulah
yang selanjutnya dinamakan ekstrak. jadi selama ini kita meminum ekstrak daun
teh, bukan minum daun teh, hehe.
Metode penyarian sangat banyak, seperti
sokletasi, perkolasi, digesti, infusa, refluks dan maserasi. Kali ini saya membahas
tentang maserasi dan refluks. Maserasi merupakan cara penyarian sederhana.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia –serbuk kering- dalam
cairan penyari. Mekanisme penyariannya yaitu cairan penyari akan menembus
dinding sel dari serbuk dan akan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif. Zat aktif akan larut dan karena
adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan di luar
sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang
sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di
dalam sel. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat
aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak
dll. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan yang
digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Sedangkan kerugian cara maserasi
adalah pengerjaannya lama dan kurang sempurna.
Metode refluks adalah metode
berkesinambungan, dimana cairan penyari secara kontinyu menyari zat aktif dalam
simplisia. Cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut
terkondensasi oleh pendingin sehingga mengalami kondensasi menjadi
molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke dalam labu alas bulat sambil
menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya
dilakukan 4 sampai 4 kali dalam waktu 4 jam. Metode ini digunakan untuk
mengekstraksi simplisia yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap
pemanasan dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah dan biji.
Kerugian dari metode ini yaitu larutan dipanaskan terus menerus sehingga zat
aktif yang tidak tahan pemanasan kurang cocok. Yang kedua, cairan penyari
dididihkan terus-menerus sehingga cairan penyari yang baik harus murni atau
campuran azeotrop.
Kesimpulan yang menarik, ternyata
prinsip penyarian ini digunakan oleh orangtua kita, khususnya ibu kita dirumah
ketika memasak sayur, menyeduh teh dll. Tapi perlu diingat, tidak semua senyawa
yang terdapat pada sayuran ataupun bahan-bahan lainnya tahan terhadap pemanasan
tinggi –misalnya antioksidan yang tidak tahan pemanasan-, bisa jadi ketika
niatnya ingin mendapatkan antioksidan, justru ketika perebusan malah
antioksidannya yang hilang, hehe.
0 komentar:
Posting Komentar