Sabtu, 04 Juli 2015

Fitokimia



 
Kabar gembira untuk kitaaa semua, kulit manggis kini ada ekstraknyaaa~ ~ ~...
Mungkin melihat lirik diatas, beberapa orang akan mengulang membacanya dan menambahkan nada-nada sesuai dengan slogan dari obat herbal “Ekstrak Manggis”. Mendengar kata ekstrak, mahasiswa farmasi tentu tahu tentang itu. Saya hanya ingin berbagi sedikit tentang apa itu ekstrak.
Ekstrak itu merupakan hasil penyarian dari pelarut yang sesuai. Prinsipnya sama seperti membuat teh. Serbuk teh direndam dalam air panas, dan senyawa yang ikut bersama dengan air panas itulah yang selanjutnya dinamakan ekstrak. jadi selama ini kita meminum ekstrak daun teh, bukan minum daun teh, hehe.
Metode penyarian sangat banyak, seperti sokletasi, perkolasi, digesti, infusa, refluks dan maserasi. Kali ini saya membahas tentang maserasi dan refluks. Maserasi merupakan cara penyarian sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia –serbuk kering- dalam cairan penyari. Mekanisme penyariannya yaitu cairan penyari akan menembus dinding sel dari serbuk dan akan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif.  Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dll. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Sedangkan kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan kurang sempurna.
Metode refluks adalah metode berkesinambungan, dimana cairan penyari secara kontinyu menyari zat aktif dalam simplisia. Cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut terkondensasi oleh pendingin sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke dalam labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 4 sampai 4 kali dalam waktu 4 jam. Metode ini digunakan untuk mengekstraksi simplisia yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah dan biji. Kerugian dari metode ini yaitu larutan dipanaskan terus menerus sehingga zat aktif yang tidak tahan pemanasan kurang cocok. Yang kedua, cairan penyari dididihkan terus-menerus sehingga cairan penyari yang baik harus murni atau campuran azeotrop.
Kesimpulan yang menarik, ternyata prinsip penyarian ini digunakan oleh orangtua kita, khususnya ibu kita dirumah ketika memasak sayur, menyeduh teh dll. Tapi perlu diingat, tidak semua senyawa yang terdapat pada sayuran ataupun bahan-bahan lainnya tahan terhadap pemanasan tinggi –misalnya antioksidan yang tidak tahan pemanasan-, bisa jadi ketika niatnya ingin mendapatkan antioksidan, justru ketika perebusan malah antioksidannya yang hilang, hehe.

0 komentar:

Posting Komentar