Suntik.... Suntik...
Mendengar kata suntik, yang terlintas dibenak adalah sebuah benda
berbentuk tabung dengan ujung runcing layaknya jarum.
Beberapa orang merasa ngeri ketika harus disuntik.
Nah, untuk mengurangi perasaan ‘ngeri’ dengan suntik, saya sebagai
mahasiswa farmasi akan memperkenalkan mengenai sediaan obat yang diberikan
dengan cara menyuntik –atau kami biasa menyebutnya sediaan injeksi-.
SEDIAAN
PARENTERAL
Perlu diketahui, berdasarkan rute pemberiannya,
obat terbagi atas dua, yaitu sediaan oral dan sediaan parenteral. Sediaan oral
merupakan rupe pemberian melalui saluran pencernaan. Sebaliknya parenteral
merupakan rute pemberian selain melalui saluran pencernaan, misalnya injeksi. Injeksi
merupakan sediaan steril bebas pirogen yang dimasukkan dengan merobek jaringan
melintasi kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh sehingga dapat
menghindari metabolisme oleh hati dan menjadikan bioavailabilitasnya sempurna.
Injeksi ada yang dapat berupa sediaan volume kecil maupun sediaan volume besar.
Untuk volume kecil biasanya menggunakan wadah ampul dan vial, sedangkan untuk
injeksi volume besar biasanya botol atau karet elastis.
Komponen-komponen
dalam sediaan injeksi seperti:
a.
Zat
Aktif
b.
Zat
Tambahan
1. Antioksidan, untuk mencegah terjadinya oksidasi
pada senyawa aktif yang akan berakibat berkurangnya efek terapi yang
diinginkan.
2. Pengawet atau antimikroba, untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme.
3. Buffer, untuk mencegah rusaknya obat dan menjaga
kesesuaian pH fisiologis.
4. Bahan pengkhelat
c.
Pembawa,
umumnya digunakan air pro injeksi. Adapun yang non-air, terbagi atas minyak dan
bukan minyak.
Pada sediaan injeksi,
seringkali diberi zat tambahan berupa emulgator. Emulgator biasanya digunakan
untuk menurunkan tegangan permukaan antara zat dengan pelarut agar senyawa yang
sulit terbasahi dapat dilarutkan dengan baik. Namun, penggunaan emulgator untuk
sediaan injeksi perlu diwaspadai sebab jika berlebihan menyebabkan
senyawa-senyawa dapat melintasi membran sel darah merah, menyebabkan sel darah
merah mengembang dan akhirnya lisis (pecah).
SEDIAAN TELINGA
Sediaan telinga merupakan sediaan yang
diperuntukkan pada telinga, dapat berupa larutan, suspensi maupun emulsi yang
biasanya diberikan dengan cara diteteskan ke dalam lubang telinga. Sediaan
telinga tidak harus steril karena penggunaannya yang topikal, akan tetapi pada
sediaan-sediaan tertentu, sediaan telinga dapat diberikan melalui mata. Oleh
karena itu, dikhawatirkan akan adanya kesalahan cara penggunaan obat, maka
sediaan telinga sebaiknya harus steril.
Penggunaan
tetes telinga biasanya untuk:
a. Antibiotik
b. Melunakkan malam atau lilin telinga yang mengeras
c. Membersihkan telinga setelah pengobatan
d. Mengeringkan permukaan telingan yang berair
e. Sebagai antiseptik ataupun anestesi lokal.
Hal-hal yang
penting dalam memformulasi sediaan telinga yaitu,
1. Pembawa air atau gliserol
Pembawa air dapat membantu memberikan aksi
pelunak malam dalam telinga dan mempertinggi viskositas.
2. Viskositas
Viskositas larutan yang tinggi membantu
memperkuat kontak antara sediaan dengan permukaan yang terkena infeksi.
Pada sediaan telinga,
sebaiknya tidak menggunakan minyak nabati tetapi minyak mineral sebab minyak
nabati dapat mengendap dalam lubang telinga dan kemungkinan akan menjadi
nutrisi bagi bakteri untuk berkembangbiak. Lain halnya pada sediaan injeksi
yang boleh menggunakan minyak nabati tetapi tidak boleh minyak mineral sebab
minyak nabati bersifat biodegradable, artinya dapat didegradasi oleh tubuh,
sedangkan minyak mineral dapat berikatan dengan radikal bebas dalam tubuh dan
memicu terjadinya kanker.
0 komentar:
Posting Komentar